Selasa, 30 Mei 2017

kepribadian

pada pembahasan kemarin kita telah menjelaskan tentang keceradasan, maka kali ini kita akan membahas tentang kepribadian. sebelum, lebih jauh kita membahas tentang kepribadian maka lebih baik kita mengetahui apa itu kepribadian.
Kepribadian merupakan salah satu ruang lingkup psikologi yang cukup populer dan juga banyak diminati. Hal ini mungkin disebabkan karena kepribadian bersifat unik, dan juga cenderung menarik, karena kepribadian tiap – tiap orang berbeda – beda. Namun ternyata, di dalam Psikologi sendiri, terdapat beberapa macam gangguan kepribadian. Disebut sebagai gangguan kepribadian, karena kepribadian yang dimiliki oleh indivdu cenderung aneh dan tidak biasa, serta bisa dikatakan mengganggu, baik dirinya sendiri maupun mengganggu orang lain. Berikut ini adalah 10 gangguan kepribadian menurut Psikologi (diambil menggunakan pedoman DSM – IV – TR)

1. Paranoid

Merupakan salah satu gangguan kepribadian, dimana mereka yang mengalami gangguan kepribadian ini adalah orang yang penuh kecurigaan, dan tidak percaya dengan orang lain dalam waktu yang sangat lama. Rasa tidak percaya dan juga kecurigaan ini biasanya muncul pada masa – masa dewasa awal, dengan ciri – ciri seperti :

  • Menduga tanpa dasar yang cukup bahwa orang lain akan memanfaatkan, mengkhianati, dan membahayakan dirinya
  • Preokupasi dengan keraguan yang tidak pada tempatnya tentang loyalitas teman atau rekan kerja
  • Enggan untuk menceritakan rahasia orang lain, karena takut informasi tersebut akan digunakan secara jahat melawan dirinya
  • Membaca arti mengancam yang tersembunyi dari ucapan atau kejadian yang biasa secara berlebihan
  • Menanggung dendam secara presisten, tidak memaafkan kerugian, cedera, atau kelalaian
  • Merasakan serangan besar terhadap karakter dirinya, dan bereaksi dengan cara menyerang
  • Memiliki kecurigaan berulang yang tanpa pertimbangan

2. Skizoid

Gangguan kepribadian berikutnya adalah gangguan kepribadian Skizoid. Gangguan kepribadian ini merupakan gangguan kepribadian dengan pola penarikan sosial dalam jangka waktu yang lama. Individu dengan gangguan ini cenderung menarik diri dan tidak mau masuk ke dalam lingkungan sosial, namun bukan merupakan bentuk dari kecemasan atau phobia sosial. Berikut ini adalah beberapa ciri dari gangguan kepribadian schizoid, yang umumnya bisa terdeteksi dari masa kanak – kanak :
  • Tidak memiliki minat atau menikmati hubungan yang dekat (close relationship), termasuk keluarga
  • Hampir selalu memilih aktivitas seorang diri
  • Sedikit minat untuk mengalami pengalaman se__ks__ual dengan orang lain
  • Sedikit merasakan kesenangan dalam beraktivitas
  • Tidak memiliki teman dekat atau orang kepercayaan, selain saudara
  • Tidak acuh terhadap pujian atau kritik
  • Menunjukkan emosi yang dingin dan juga datar

3. Skizotipal

Gangguan kepribadian ini merupakan gangguan kepribadian dimana mereka yang mengalaminya merupakan individu yang banyak memiliki pemikiran magis, gagasan – gagasan yang aneh, derealisasi, dan juga waham. Beberapa ciri dari gangguan kepribadian skizotipal ini adalah :
  • Gagasan yang menyangkut diri sendiri
  • Keyakinan aneh, atau pikiran magis yang tidak sesuai dengan norma (Misalnya mengaku dirinya adalah seorang Nabi)
  • Pengalaman persepsi yang tidak lazim, misalnya sering dikunjungi oleh orang – orang suci jaman dahulu, iblis, dan semacamnya
  • Pikiran dan cara berbicara yang aneh, berbelit – belit, dan tidak jelas
  • Mengalami paranoid
  • Pola afeksi yang tidak sesuai
  • Perilaku atau penampilan yang aneh dan janggal, cenderung eksentrik
  • Tidak memiliki teman akrab atau orang yang dipercaya
  • Kecemasan sosial yang berlebihan

4. Antisosial

Banyak yang mengatakan bahwa antisosial merupakan kondisi dimana individu tidak mau masuk ke dalam lingkungan sosial. Namun hal ini salah besar. Antisosial merupakan kondisi gangguan kepribadian, dimana individu tidak mampu untuk mengikuti dan juga mematuhi norma – norma sosial. Gangguan kepribadian ini muncul pada masa – masa remaja, dengan beberapa ciri seperti:
  • Gagal untuk mematuhi norma sosial dan mematuhi perilaku sesuai dengan hukum yang ada
  • Tidak jujur, berbohong, menipu, nama samaran, untuk kesenangan pribadi
  • Impulsif
  • Agresif, mudah tersinggung, ditunjukkan dengan perkelahian fisik
  • Secara sembrono mengabaikan keselamatan diri
  • Tidak bertanggung jawab secara terus menerus, misalnya bolos sekolah, meninggalkan keluarga
  • Tidak ada penyesalan, acuh tak acuh, serta mencari – cari alasan penyebab perbuatannya.

5. Borderline / Kepribadian Ambang

Merupakan salah satu gangguan kepribadian yang cukup mengerikan, karena dekat dengan gangguan psikosis dan juga neurosis, serta masalah citra diri yang tidak stabil, dimana banyak penderita gangguan ini seringkali mengancam untuk bunuh diri dan juga menyakiti dirinya sendiri. Berikut ini adalah ciri – ciri dari gangguan kepribadian ambang :
  • Mati – matian dalam menghindari ketinggalan secara nyata, cenderung sangat membutuhkan orang lain
  • Pola hubungan interpersonal yang tidak stabil
  • Gangguan dan masalah identitas, citra diri, serta perasaan diri sendiri yang tidak stabil
  • Impulsif, paling tidak pada dua hal yang membahayakan dirinya sendiri seperti penyalahgunaan zat, kebut – kebutan, dan mengancam nyawa diri sendiri
  • Perilaku mutilasi diri, menyakiti diri sendiri, dan ancaman bunuh diri yang berulang – ulang
  • Ketidakstabilan emosi / afek
  • Kemarahan yang kuat dan tidak pada tempatnya
  • Cenderung memilki ide paranoid.

6. Histrionik

Merupakan bentuk gangguan kepribadian, dimana individu yang mengalami gangguan ini cenderung berlebihan, meluap – luap, dan juga cenderung dramatic. Hal ini merujuk pada kondisi individu yang ingin menjadi pusat perhatian. Berikut ini adalah ciri – ciri dari gangguan kepribadian histrionic :
  • Tidak merasa nyaman ketika tidak menjadi pusat perhatian
  • Sering memberikan perilaku provokatif dan menggoda secara se__ks__ual ketika berinteraksi dengan orang lain
  • Ekspresi emosi yang dangkal
  • Secara terus – menerus menggunakan penampilan fisik untuk menarik perhatian (misalnya selalu menggunakan make up yang tebal kemanapun)
  • Memiliki gaya bicara yang tinggi
  • Ekspresi emosi yang berlebihan, dramatis, dan teatrikal
  • Mudah dipengaruhi oleh orang lain

7. Narsistik

Mungkin saat ini narsis banyak dikategorikan sebagai perilaku mempercantik dirinya sendiri, atau menganggap dirinya cantik. Namun gangguan kepribadian narsistik ini merupakan suatu kondisi dimana individu merasa bahwa dirinya memiliki rasa kepentingan yang besar. Gangguan kepribadian ini ditunjukkan dengan beberapa ciri, yaitu :
  • Rasa kepentingan diri yang besar, seperti misalnya melebih – lebihkan bakat, dan berusaha terlihat superior di mata orang lain
  • Memiliki preokupasi terhadap khayalan akan keberhasilan, kekeuatan, kecerdasan yang tidak terbatas
  • Merasa yakin bahwa dirinya adalah satu – satunya, unik, dan membtuhkan perlakuan khusus
  • Memiliki kebutuhan akan rasa bangga yang besar
  • Eksploitatif, mengambil keuntungan dari orang lain untuk dirinya sendiri
  • Tidak memiliki empati
  • Sering iri dengan orang lain, atau merasa yakin bahwa orang lain iri kepada dirinya
  • Memperlihatkan perilaku sombong

8. Avoidant / Menghindar

Merupakan gangguan kepribadian, dimana mereka yang mengalaminya cenderung menghindar karena merasa ditolak. Individu dengan gangguan ini bukan karakter individu yang brkepribadian schizoid, karena mereka sebenarnya ingin berkomunikasi dan berinteraksi sosial, namun merasa rendah diri, malu, dan cenderung mudah merasa cemas. Berikut ini adalah ciri – ciri gangguan kepribadian menghindar / avoidant :
  • Meghindari aktivitas interpersonal, karena takut dikritik, dicela, atau ditolak
  • Tidak mau terlibat dengan orang lain, kecuali yakin akan disenangi orang lain
  • Keterbatasan dalam hubungan intim karena takut akan diledek dan dipermalukan
  • Preokupasi, atau merasa dirinya sedang dikritik, dan jga ditolak dalam situasi sosial
  • Terhambat dalam situasi interpersonal yang baru
  • Memandang diri sendiri janggal dalam bidang social

9. Kepribadian Dependent

Merupakan salah satu gangguan kepribadian, dimana mereka yang mengalami hal ini cenderung dependen dan juga sangat bergantung pada orang lain. cenderung tidak percaya diri, dan sering merasa tidak nyaman ketika sedang sendiri. Berikut ini adalah beberapa ciri dari gangguan kepribadian dependen :
  • Kesulitan dalam mengambil keputusan tanpa nasehat dari orang lain
  • Butuh orang lain untuk menerima tanggung jawab dalam sebagian besar bidang utamanya
  • Sulit dalam mengekspresikan ketidaksetujuan
  • Sulit dalam memulai proyek ataupun hal untuk dirinya sendiri
  • Berusaha keras untuk mendapatkan dukungna dan juga sughan dari orang lain
  • Merasa tidak berdaya apabila sendirian
  • Segera mencari orang lain untuk mendukugnya apabila hubungan dekatnya berakhir
  • Terokupasi pada rasa takut ditinggal secara tidak realistic

10.Obsesif kompulsif

Anda mungkin pernah mendengar mengenai OCD atau Obsessive Compulsive Disorder. OCD merupakan gangguan dimana individu mengalami kompulsif dan obsesif terhadap suatu hal. Namun gangguan kepribadian obsesif kompulsif (OCPD / Obsessive Compulsive Personality Disorder) sangat berbeda dengan OCD. OCPD merupakan gangguan kepribadian dimana individu yang mengalaminya cenderung perfeksionis, keras kepala, dan mengalami penyempitan emosional. Ada beberapa ciri dari gangguan kepribadian obsesif kompulsif ini, yaitu :
  • Terfokus pada perincian, aturan, daftar, urutan, dan juga jadwal pada aktivitas – aktivitas utama
  • Perfeksionisme yang mengganggu penyelesaian tugas, misalnya tidak mampu menyelesaikan tugas dalam waktu yang ditentukan, karena terlalu banyak merubah – rubah, akibat standar diri sendiri yang terlalu ketat
  • Setia pada pekeraan dan juga produktivitas hingga mengabaikan waktu luang
  • Hati – hati, teliti, dan tidak fleksibel, terutama pada moral, etika dan nilai – nila
  • Menyimpan benda yang tidak berguna, meskipun sudah tidak bernilai apapun
  • Tidak mau mendelagasikan tugas kepada orang lain
  • Memiliki gaya belanja yang kikir
  • Kaku dan juga keras kepala
jadi begitulah pengertian kepribadian dan gangguan-gangguan terhadap kepribadian. alangkah, baiknya jika kita mulai merasakan gejala yang menganggu terhadap kepribadian kita, kita konsultasikan kepada psikolog.

sumber :
http://www.psikoma.com/wah-ternyata-inilah-10-gangguan-kepribadian-manusia-menurut-psikologi/amp/

Selasa, 23 Mei 2017

hubungan antara motivasi dan emosi

pada kali ini saya akan menulis tentang hubungan antara motivasi dan emosi. Sebelum kita lebih jauh membahas tentang apa itu motivasi dan emosi, mari kita kenali terlebih dahulu satu persatu arti dari apa itu motivasi dan emosi pula kita akan membahas apakah keduanya terdapat hubungan.

menurut KBBI motivasi adalahmo·ti·va·si n 1 dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu; 2 Psi usaha yang dapat menyebabkan seseorang atau kelompok orang tertentu tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendak
sedangkan menurut psikologi motivasi adalah kekuatan, tenaga, keadaan yang kompleks, kesiapsediaan dalam diri individu untuk bergerak (motion) ke arah tujuan tertentu, baik disadari maupun tidak disadari.

faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi

·         Determinan yang berasal dari lingkungan ( kegaduhan, bahaya dari lingkungan, desakan guru, dll )

·         Determinan dari dalam diri individu ( harapan / cita-cita, emosi, instink, keinginan, dll )

·         Tujuan / insentif atau nilai dari suatu objek, factor-faktor yang berasal :

-  Dari dalam diri individu ( kepuasan kerja, tanggung jawab, dll  )

- Dari luar individu ( status, uang, dll )


4.     Usaha untuk menumbuhkan motivasi

·         Pelajaran yang diberikan berkaitan dengan pengalaman

·         Membiarkan seseorang mengembangkan bakat

·         Pelajaran yang diberikan sesuai dengan kehidupan sehari-hari

·         Mengembangkan bakat dan minat

Secara umum, kebutuhan-kebutuhan yang mendasari motivasi seseorang untuk melakukan sesuatu dapat digolongkan, yaitu :

Motif biologis : kebutuhan dasar untuk mempertahankan dan kelangsungan hidup manusia sebagai organisme.

Contoh :
Kebutuhan untuk makan, minum, menghirup oksigen
Kebutuhan reproduksi, beranak, jarena menyangkut kelangsungan hidup mahluk manusia sebagai spesies

Motif sosiologis, yaitu merupakan motif untuk mengadakan hubungan dengan orang lain. Motif ini berkembang atas dasar interaksi individu dalam masyarakat.

Motif teologis, yaitu yang mendorong manusia untuk mengadakan hubungan dengan Tuhan.
 

EMOSI
Sedangkan Kata emosi berasal dari bahasa latin, yaitu emovere, yang berarti bergerak menjauh. Arti kata ini menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi. Menurut Daniel Goleman (2002 : 411) emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak.

Biasanya emosi merupakan reaksi terhadap rangsangan dari luar dan dalam diri individu. Sebagai contoh emosi gembira mendorong perubahan suasana hati seseorang, sehingga secara fisiologi terlihat tertawa, emosi sedih mendorong seseorang berperilaku menangis.

Emosi berkaitan dengan perubahan fisiologis dan berbagai pikiran. Jadi, emosi merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia, karena emosi dapat merupakan motivator perilaku dalam arti meningkatkan, tapi juga dapat mengganggu perilaku intensional manusia. (Prawitasari,1995)

Pengertian Emosi

Beberapa tokoh mengemukakan tentang macam-macam emosi, antara lain Descrates. Menurut Descrates, emosi terbagi atas : Desire (hasrat), hate (benci), Sorrow (sedih/duka), Wonder (heran), Love (cinta) dan Joy (kegembiraan). Sedangkan JB Watson mengemukakan tiga macam emosi, yaitu : fear (ketakutan), Rage(kemarahan), Love (cinta).

Daniel Goleman (2002 : 411) mengemukakanbeberapa macam emosi yang tidak berbeda jauh dengan kedua tokoh di atas, yaitu :
a. Amarah : beringas, mengamuk, benci, jengkel, kesal hati
b. Kesedihan : pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihi diri, putus asa
c. Rasa takut : cemas, gugup, khawatir, was-was, perasaan takut sekali, waspada, tidak tenang, ngeri
d. Kenikmatan : bahagia, gembira, riang, puas, riang, senang, terhibur, bangga
e. Cinta : penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat,  dan kemesraan
f. Terkejut : terkesiap, terkejut
g. Jengkel : hina, jijik, muak, mual, tidak suka
h. malu : malu hati, kesal

Seperti yang telah diuraikan diatas, bahwa semua emosi menurut Goleman pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak. Jadi berbagai macam emosi itu mendorong individu untuk memberikan respon atau bertingkah laku terhadap stimulus yang ada.

Dalam the Nicomachea Ethics pembahasan Aristoteles secara filsafat tentang kebajikan, karakter dan hidup yang benar, tantangannya adalah menguasai kehidupan emosional kita dengan kecerdasan. Nafsu, apabila dilatih dengan baik akan memiliki kebijaksanaan; nafsu membimbing pemikiran, nilai, dan kelangsungan hidup kita. 

Tetapi, nafsu dapat dengan mudah menjadi tak terkendalikan, dan hal itu seringkali terjadi. Menurut Aristoteles, masalahnya bukanlah mengenai emosionalitas, melainkan mengenai keselarasan antara emosi dan cara mengekspresikan (Goleman, 2002 : xvi).

Menurut Mayer (Goleman, 2002 : 65) orang cenderung menganut gaya-gaya khas dalam menangani dan mengatasi emosi mereka, yaitu : sadar diri, tenggelam dalam permasalahan, dan pasrah. Dengan melihat keadaan itu maka penting bagi setiap individu memiliki kecerdasan emosional agar menjadikan hidup lebih bermakna dan tidak menjadikan hidup yang di jalani menjadi sia-sia.

Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa pengertian adalah suatu perasaan (afek) yang mendorong individu untuk merespon atau bertingkah laku terhadap stimulus, baik yang berasal dari dalam maupun dari luar dirinya.

jadi kesimpulannya bahwa, semakin intelegen seseorang akan semakin tinggi motivasi dalam diri individu tersebut yamg berpengaruh terhadap motivasi dalam dirinya. sebagaimana, seseorang yang ber-IQ tinggi akan tetap mengulang dan mengulang jika ia salah karena motivasi untuk berhasilnya yang tinggi. dalam sisi emosinya pun berkaitan terhadap emosinya yang lebih pandai dalam menekan emosinya agar tidak meledak-ledak karena seseorang yang bermotivasi tinggi akan berpikir bahwa emosi yang terlalu besar dikeluarkan hanya seseorang yang rendah dalam cara berpikirnya.

Selasa, 16 Mei 2017

intelegensi pada kecerdasan

pada kali ini saya akan menjelaskan tentang hubungan intelegensi dengan kecerdasan, sebelum kita bahas lebih dalam mari kita ketahui apa itu intelegensi ? dan bagaimanakah bisa keduanya bersangkutan atau tidak ?

Menurut David Wechsler, inteligensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif. Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa inteligensi adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional. Oleh karena itu, inteligensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu.

nah sedangkan selanjutnya kita sambungkan pada kecerdasan yang meliputi bakat , kreativitas dan lain-lainnya.

1.Pengertian Kreativitas.

Berikut ini adalah pendapat beberapa ahli psikologi tentang pengertian Kreativitas yaitu sebagai berikut :
a) David Campbell, Ph.D menyatakan bahwa kreativitas adalah kegiatan yang mendatangkan hasil dengan kandungan ciri ;

Inovatif : belum pernah ada, segar, menarik, aneh, mengejutkan dan teobosan baru.

Berguna : lebih enak, lebih baik, lebih praktis, mempermudah, mendorong, memecahkan masalah, mengurangi hambatan.

Dapat dimengerti : hasil yang sama dapat dibuat pada waktu yang lain.

b) James R Evan, menyatakan kreativitas adalah keterampilan untuk membentuk kombinasi-kombinasi baru dari dua atau lebih konsep yang telah ada dalam pikiran. Setiap kreasi merupakan kombinasi baru dari ide-ide dan produk yang inovatif, seni dalam pemenuhan kebutuhan manusia.


c) Michael A.West, menyatakan bahwa kreativitas merupakan penyatuan pengetahuan berbagai bidang pengalaman yang berlainan untuk menghasilkan ide-ide baru yang lebih baik. Kreativitas merupakan salah satu bagian dasar dari usaha manusia. Kreativitas melibatkan kita dalam penemuan-penemuan terus-menerus cara baru dan baik dalam mengerjakan berbagai hal. Atau dalam pengertian yang lebih luas, kreativitas terkait dengan penggunaan berbagai potensi yang dimiliki, baik pengetahuan, intuisi maupun imajinasi sedemikian rupa sehingga dapat menghasilkan ide-ide baru yang lebih baik dan bermanfaat.

d) Rawlinson (1979:9) mengemukakan Kreativitas merupakan kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu gagasan baru maupun karya nyata baru yang merupakan kombinasi dengan hal-hal yang sudah ada sehingga relatif berbeda dengan yang telah ada.


3. Pengertian Bakat.
Bakat adalah kemampuan tertentu yang telah dimiliki seseorang sebagai kecakapan pembawaan. Ungkapan ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Ngalim Purwanto (1986:28) bahwa “bakat dalam hal ini lebih dekat pengertiannya dengan kata aptitude yang berarti kecakapan, yaitu mengenai kesanggupan-kesanggupan tertentu.”
Kartono (1995:2) menyatakan bahwa “bakat adalah potensi atau kemampuan kalau diberikan kesempatan untuk dikembangkan melalui belajar akan menjadi kecakapan yang nyata.”
Menurut Syah Muhibbin (1999:136) mengatakan “bakat diartikan sebagai kemampuan individu untuk melakukan tugas tanpa banyak bergantung pada upaya pendidikan dan latihan.”
Menurut Guilford bakat adalah kecakapan yang dimiliki seseorang sejak lahir untuk melakukan sesuatu.
Menurut Sukardi bakat adalah kualitas yang dimiliki individu yang memungkinkan dirinya dapat berkembang dimasa yang akan datang.

2. Pengertian Prestasi Belajar
Berikut ini adalah pendapat beberapa ahli psikologi tentang pengertian Intelegensi yaitu sebagai berikut :

Menurut Poerwanto (1986:28) memberikan pengertian prestasi belajar yaitu “hasil yang dicapai oleh seseorang dalam usaha belajar sebagaimana yang dinyatakan dalam raport.”

Menurut Winkel (1996:162) mengatakan bahwa “prestasi belajar adalah suatu bukti keberhasilan belajar atau kemampuan seseorang siswa dalam melakukan kegiatan belajarnya sesuai dengan bobot yang dicapainya.”

Menurut S. Nasution (1996:17) prestasi belajar adalah: “Kesempurnaan yang dicapai seseorang dalam berfikir, merasa dan berbuat. Prestasi belajar dikatakan sempurna apabila memenuhi tiga aspek yakni: kognitif, affektif dan psikomotor, sebaliknya dikatakan prestasi kurang memuaskan jika seseorang belum mampu memenuhi target dalam ketiga kriteria tersebut.”

3. Hubungan antara intelegensi dengan kreativitas

Kreativitas merupakan salah satu ciri dari perilaku yang inteligen karena kreativitas juga merupakan manifestasi dari suatu proses kognitif. Meskipun demikian, hubungan antara kreativitas dan inteligensi tidak selalu menunjukkan bukti-bukti yang memuaskan. Walau ada anggapan bahwa kreativitas mempunyai hubungan yang bersifat kurva linear dengan inteligensi, tapi bukti-bukti yang diperoleh dari berbagai penelitian tidak mendukung hal itu. Skor IQ yang rendah memang diikuti oleh tingkat kreativitas yang rendah pula. Namun semakin tinggi skor IQ, tidak selalu diikuti tingkat kreativitas yang tinggi pula. Sampai pada skor IQ tertentu, masih terdapat korelasi yang cukup berarti. Tetapi lebih tinggi lagi, ternyata tidak ditemukan adanya hubungan antara IQ dengan tingkat kreativitas.
Para ahli telah berusaha mencari tahu mengapa ini terjadi. J. P. Guilford menjelaskan bahwa kreativitas adalah suatu proses berpikir yang bersifat divergen, yaitu kemampuan untuk memberikan berbagai alternatif jawaban berdasarkan informasi yang diberikan. Sebaliknya, tes inteligensi hanya dirancang untuk mengukur proses berpikir yang bersifat konvergen, yaitu kemampuan untuk memberikan satu jawaban atau kesimpulan yang logis berdasarkan informasi yang diberikan. Ini merupakan akibat dari pola pendidikan tradisional yang memang kurang memperhatikan pengembangan proses berpikir divergen walau kemampuan ini terbukti sangat berperan dalam berbagai kemajuan yang dicapai oleh ilmu pengetahuan.

4. Hubungan antara intelegensi dengan bakat.
Inteligensi merupakan suatu konsep mengenai kemampuan umum individu dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Dalam kemampuan yang umum ini, terdapat kemampuan-kemampuan yang amat spesifik. Kemampuan-kemampuan yang spesifik ini memberikan pada individu suatu kondisi yang memungkinkan tercapainya pengetahuan, kecakapan, atau ketrampilan tertentu setelah melalui suatu latihan. Inilah yang disebut Bakat atau Aptitude. Karena suatu tes inteligensi tidak dirancang untuk menyingkap kemampuan-kemampuan khusus ini, maka bakat tidak dapat segera diketahui lewat tes inteligensi.
Alat yang digunakan untuk menyingkap kemampuan khusus ini disebut tes bakat atau aptitude test. Tes bakat yang dirancang untuk mengungkap prestasi belajar pada bidang tertentu dinamakan Scholastic Aptitude Test dan yang dipakai di bidang pekerjaan adalah Vocational Aptitude Test dan Interest Inventory. Contoh dari Scholastic Aptitude Test adalah Tes Potensi Akademik (TPA) dan Graduate Record Examination (GRE). Sedangkan contoh dari Vocational Aptitude Test atau Interest Inventory adalah Differential Aptitude Test (DAT) dan Kuder Occupational Interest Survey.
5. Hubungan antara intelegensi dengan prestasi belajar


Kecerdasan adalah kemampuan belajar disertai kecakapan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan yang dihadapinya. Kemampuan ini sangat ditentukan oleh tinggi rendahnya intelegensi yang normal selalu menunjukkan kecakapan sesuai dengan tingkat perkembangan sebaya. Adakalany perkembangan ini ditandai oleh kemajuan-kemajuan yang berbeda antara satu anak dengan anak yang lainnya, sehingga seseorang anak pada usia tertentu sudah memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kawan sebayanya. Oleh karena itu jelas bahwa faktor intelegensi merupakan suatu hal yang tidak diabaikan dalam kegiatan belajar mengajar.Menurut Kartono (1995:1) kecerdasan merupakan “salah satu aspek yang penting, dan sangat menentukan berhasil tidaknya studi seseorang. Kalau seorang murid mempunyai tingkat kecerdasan normal atau di atas normal maka secara potensi ia dapat mencapai prestasi yang tinggi.Slameto (1995:56) mengatakan bahwa “tingkat intelegensi yang tinggi akan lebih berhasil daripada yang mempunyai tingkat intelegensi yang rendah.”Muhibbin (1999:135) berpendapat bahwa intelegensi adalah “semakin tinggi kemampuan intelegensi seseorang siswa maka semakin besar peluangnya untuk meraih sukses. Sebaliknya, semakin rendah kemampuan intelegensi seseorang siswa maka semakin kecil peluangnya untuk meraih sukses.”Dari pendapat di atas jelaslah bahwa intelegensi yang baik atau kecerdasan yang tinggi merupakan faktor yang sangat penting bagi seorang anak dalam usaha belajar.

jadi pada kesimpulannya, intelegensi pada seseorang yang baik dan semakin tinggi seiring dengan bertambah ilmu dan pengalaman akan mempengaruhi baik buruknya kecerdasan seseorang, bakat, prestasi.